Monday, July 8, 2019

Pengukuran Topografi


Kali ini saya akan berbagi tentang cara pelaksanaan pengukuran topografi, biasanya pengukuran ini dilakukan pada saat prakonstruksi

A.Pengertian
Berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang berarti menggambar. Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Peta topografi mengacu pada semua ciri-ciri permukaan bumi yang dapat diidentifikasi, apakah alamiah atau buatan, yang dapat ditentukan pada posisi tertentu. Oleh sebab itu, dua unsur utama topografi adalah ukuran relief dan ukuran planimetrik. Peta topografi menyediakan data yang diperlukan tentang sudut kemiringan, elevasi, daerah aliran sungai, vegetasi secara umum dan pola urbanisasi. Peta topografi juga menggambarkan sebanyak mungkin ciri-ciri permukaan suatu kawasan tertentu dalam batas-batas skala.Peta topografi dibuat untuk memberikan informasi tentang keberadaan, lokasi, dan jarak, seperti lokasi penduduk, rute perjalanan dan komunikasi. Peta topografi juga menampilkan variasi daerah, ketinggian kontur, dan tingkat tutupan vegetasi.
B. Tujuan
Peta topografi dibuat untuk memberikan informasi tentang keberadaan, lokasi, dan jarak, seperti lokasi penduduk, rute perjalanan dan komunikasi. Peta topografi juga menampilkan variasi daerah, ketinggian kontur, dan tingkat tutupan vegetasi. Dengan kekuatan militer yang tersebar di seluruh dunia, maka militer bergantung pada peta untuk memberikan informasi terhadap unsur-unsur tempur dan untuk menyelesaikan operasi logistik. Mobilitas tentara dan material yang harus diangkut, disimpan, dan ditempatkan ke dalam operasi pada waktu dan tempat yang tepat. Banyak dari perencanaan ini harus dilakukan dengan menggunakan peta. Oleh karena itu, setiap operasi memerlukan pasokan peta, namun meskipun kita memiliki peta terbaik, peta tidak akan berharga kecuali pengguna peta tahu bagaimana cara membacanya.


C. Unsur – Unsur Peta Topografi
Layaknya peta-peta yang lain, Peta Topografi memiliki unsur unsur didalamnya. Dibawah ini adalah unsur unsur penting dalam Peta topografi adalah:

  1. Judul Peta.
Judul peta ada dibagian tengah atas. Judul peta menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan, sehingga lokasi yang berbeda akan mempunyai judul yang berbeda pula
  1. Nomor Peta.
Nomor peta biasanya dicantumkan diselah kanan atas peta. Selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk jika kita memerlukan peta daerah lain disekitar suatu daerah yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan pula lembar derajat yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada disekeliling peta tersebut.
  1. Koordinat Peta.
Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus. 4 Koordinat Geografis. Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus terhadap katulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan katulistiwa. Koodinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik.
4.      Koordinat Grid.
Dalam koordinat Grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan nol terdapat disebelah barat Jakarta (60 derajat LU, 68 derajat BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan garis horizontal diberi nomor urut dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran dengan 6 angka, 8 angka dan 10 angka. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 6 angka, untuk daerah yang lebih sempit digunakan penomoran 8 angka dan 10 angka (biasanya 10 angka dihasilkan oleh GPS).

5.      Kontur.
Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian, sama dari permukaan laut,. Sifat-sifat garis kontur adalah : a. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu. b. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi. c. Garis kontur tidak berpotongan dan tidak bercabang. d. Interval kontur biasanya 1/2000 kali skala peta. e. Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang curam/terjal, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai. f. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf menandakan Punggungan gunung. g. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf terbalik menandakan suatu lembah/jurang

6.      Skala Peta.
Skala adalah perbandingan antara ukuran di peta dengan ukuran sesungguhnya di lapangan. Jenisnya ada Skala Numerik dan Skala Grafik. Skala Numerik adalah Skala yang ditampilkan dengan simbol angka, misalnya 1:25.000 yaitu 1 cm di peta sama dengan 25.000 cm (250 M) di lapangan. Skala Grafik adalah Skala yang ditampilkan dalam bentuk grafik/gambar yang menyatakan perbandingan panjang ukuran di peta dengan ukuran sebenarnya di lapangan..
Ada dua macam cara penulisan skala, yaitu : Skala angka, contoh : 1:25.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya. Skala garis, contoh: berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak horizontal.

Ada dua (2) cara menyatakan skala pada peta, yaitu:
1. Cara numerik atau angka, misalnya 1:25.000, 1:50.000, 1:100.000,dan lainnya.
2. Cara grafis, seperti gambar di bawah ini
Skala 1:250.000
Skala 1:50.000
Skala 1:25.000
Gambar 3.1. Skala-skala grafis pada peta rupabumi
7.      Legenda Peta.
Legenda peta biasanya disertakan pada bagian bawah peta. Legenda ini memuat simbol-simbol yang dipakai pada peta tersebut, yang penting diketahui : triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, pemukiman, ladang, sawah, hutan dan lainnya. Di Indonesia, peta yang umumnya digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, kemudian peta dari Jawatan Topologi, atau yang sering disebut peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.



8.      Tahun Peta.
Peta Topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut, semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan semakin akurat.

9.      Arah Peta.
Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara Peta. Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah Arah Utara peta. Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat Petunjuk arah utara, yaitu :
a. Utara sebenarnya/True North : yaitu utara yang mengarah pada kutub utara bumi.
b. Utara Magnetis/Magnetic North : yaitu utara yang ditunjuk oleh jarum
magnetis kompas, dan letaknya tidak tepat di kutub utara bumi.
c. Utara Peta/Map North : yaitu arah utara yang terdapat pada peta.
Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi.Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk keperluan yang menuntut ketelitian perlu dipertimbambangkan adanya iktilaf(deklinasi) peta, iktilaf magnetis, iktilaf peta magnetis, dan variasi magnetis

10.  Insert dan Indeks peta.
Peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area yang dipetakan tersebut. Inzet peta merupakan peta yang diperbersar dari bagian belahan bumi. Sebagai contoh, kita mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang diinzet. Sedangkan index peta merupakan sistem tata letak peta, dimana menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di sekitarnya.

11.  Grid.
Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak-kotak atau grid system. Tujuan Grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari sekian banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak sebuah titik di atas lembar peta.

12.  Nomor Peta.
Penomoran peta penting untuk lembar peta untuk jumlah besar.

13.  Sumber/Keterangan Riwayat.
Peta Sumber ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun peta, percetakan, system proyeksi peta, penyimpangan deklinasi magnetis, tanggal/tahun pengambilan data dan tanggal pembuatan/pencetakan peta, dan lain sebagainya yang memperkuat identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan.



Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik berketinggian sama yang diukur dari atas permukaan air laut. Sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut:
1.      Garis kontur selalu merupakan garis lengkung yang tertutup/tidak terputus.
2.      Garis kontur tidak pernah berpotongan atau menjadi satu.
3.      Garis kontur tidak mungkin pecah atau bercabang. Garis kontur dengan ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi,kecuali bila disebutkan khusus untuk hal-hal tertentu seperti kawah.
4.      Beda ketinggian antara dua garis kontur adalah tetap walaupun kerapatan garis berubah-ubah.
5.      Untuk daerah yang landai terlihat bahwa jarak antara garis kontur jarang-jarang.
6.      Untuk daerah yang curam jarak antara garis-garis kontur terlihat rapat.
7.      Punggungan gunung/ bukit terlihat dipeta sebagai rangkaian kontur berbentuk ‘U’ yang ujungnya mlengkung menjauhi puncak.
8.      Lembah terlihat dipeta sebagai rangkaian kontur berbentuk ‘V’ yang ujungnya tajam dan menjorok kearah puncak.

Metode Pengukuran Detil
1.      Metode Radial (menyebar)
2.      Metode Raay (Grid)
Metode Radial (menyebar)
v  Sudut – jarak
v  Asimut - jarak




 
Metode Raay

Metode Grid

CARA PENGAMBILAN DETIL
Berikut dijelaskan secara singkat melalui gambar-gambar pengambilan titik detil litologi dan detil topografi (planimetri dan tinggi).
1.      Detil Planimetri

v  Jalan
v  Tikungan Jalan / Sungai


101, 102, dst = Nomor Detil (Penempatan Rambu) 
v  Perempatan Jalan
2. Detil Tinggi
v  Kasus I (hanya topografi)

101, 102, dst = Nomor Detil (Penempatan Rambu)



v  Kasus II (topografi dan sungai)
v  101, 102, dst = Nomor Detil (Penempatan Rambu)

v  Kasus III
101, 102, dst = Nomor Detil (Penempatan Rambu) 
PENGGAMBARAN PETA
Penggambaran dilakukan sesuai dengan urutan prosedur berikut :
1.      Plotkan semua titik poligon, tulis ketinggian di samping nomor titik poligon
2.      Plotkan semua titik detail, tulis ketinggiannya (titik detail digunakan sebagai penunjuk koma angka ketinggian)
3.      Hubungkan detail - detail planimetri sesuai sketsa yang dibuat
4.      Lakukan penarikan garis kontur sesuai prosedur yang dijelaskan berikut

Interpolasi Kontur
Misalkan ada dua titik detil d.301 dan d.206 yang berjarak 8,7 cm (di peta) dan masing-masing mempunyai mempunyai ketinggian 96,8 meter dan 104,4 meter. Kedua titik tersebut akan diiterpolasi setiap 1 meter sehingga harus dicari jaraknya untuk ketinggian 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, dan 104 meter pada bidang kertas (proyeksi di bidang datar).

Interpolasi Kontur 


Perhatikan gambar segitiga siku-siku berikut ………
Segitiga ABC siku-siku di B, garis BC sejajar DE, maka berlaku rumus berikut :
Memperhatikan gambar sebelumnya, jika harus mencari jarak-jarak ketinggian 97, 98,dst, maka dapat dicari dengan rumus perbandingan dalam segitiga siku-siku. Jika AD merupakan jarak ketinggian 97 (dicari), maka DE = 97 – 96,8 = 0,2 (m), AB =  8,7 (cm) dan BC = 7,6 (m).
AD(97) = 0,2 cm, AD(98) = 1,4 cm, AD(99) = 2,5 cm, AD(100) = 3,7 cm …. dst.

Sebaran titik detil berikut akan ditarik garis konturnya 

 

Langkah pertama 

 
 
 
Langkah kedua 


 




Langkah ketiga


No comments:

Post a Comment

Search This Blog