Kali ini saya membagikan cara melakukan pengukuran kerangka pemetaan. Dalam pembuatan peta yang dikenal dengan istilah pemetaan
dapat dicapai dengan melakukan pengukuran pengukuran di atas permukaan bumi
yang mempunyai bentuk tidak beraturan. Pengukuran-pengukuran dibagi dalam
pengukuran yang mendatar untuk mendapat hubungan titik-titik yang diukur diatas
permukaan bumi (Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal) dan pengukuran-pengukuran
tegak guna mendapat hubungan tegak antara titik-titik yang diukur (Pengukuran
Kerangka Dasar Vertikal) serta pengukuran titik-titik detail.
Kerangka dasar pemetaan untuk pekerjaan rekayasa pada kawasan yang tidak luas dimana bumi
masih bisa dianggap sebagai bidang datar, umumnya merupakan bagian pekerjaan
pengukuran dan pemetaan dari satu kesatuan paket pekerjaan perencanaan/perancangan
bangunan.
Titik-titik kerangka dasar pemetaan yang akan ditentukan terlebih
dahulu koordinat dan ketinggiannya itu
dibuat tersebar merata dengan kerapatan tertentu, permanen, mudah dikenali dan
didokumentasikan secara baik sehingga memudahkan penggunaan selanjutnya.
1. Kerangka Dasar
Vertikal
Kerangka dasar vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang
telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya
terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Bidang ketinggian rujukan ini bisa
berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea level - MSL)
atau ditentukan lokal. Umumnya titik kerangka dasar vertikal dibuat menyatu
pada satu pilar dengan titik kerangka dasar Horizontal.
Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal dimulai oleh Belanda dengan
menetapkan MSL di beberapa tempat dan diteruskan dengan pengukuran sipat datar
teliti. Bakosurtanal, mulai akhir tahun 1970-an memulai upaya penyatuan sistem
tinggi nasional dengan melakukan pengukuran sipat datar teliti yang melewati
titik-titik kerangka dasar yang telah ada maupun pembuatan titik-titik baru
pada kerapatan tertentu. Jejaring titik kerangka dasar vertical ini disebut
sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG).
Hingga saat ini,
pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara pengukuran beda tinggi
yang paling teliti, sehingga ketelitian kerangka dasar vertical (K) dinyatakan
sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar
pergi dan pulang. Untuk keperluan pengikatan ketinggian, bila pada suatu
wilayah tidak ditemukan TTG, maka bisa menggunakan ketinggian titik triangulasi
sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap MSL dan dapat
juga menggunakan titik orthometrik dari pengukuran GPS Geodetik.
Pengukuran tinggi
adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda tinggi antara dua titik
dapat ditentukan dengan :
1.
Metode pengukuran penyipat datar
2.
Metode trigonometris
3. Metode
barometri
1.1.
Metode
Pengukuran Sipat Datar
Metode
sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau
pengukuran perbedaan elevasi. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan tinggi
diatas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang garis vertikal. Perbedaan
tinggi antara titik-titik akan dapat ditentukan dengan garis sumbu pada pesawat
yang ditunjukan pada rambu yang vertical.
Tujuan
dari pengukuran penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang
diukur. Misalnya bumi, bumi mempunyai permukaan ketinggian yang tidak sama atau
mempunyai selisih tinggi. Apabila selisih tinggi dari dua buah titik dapat
diketahui maka tinggi titik kedua dan seterusnya dapat dihitung setelah titik pertama
diketahui tingginya.
Sebelum
digunakan alat sipat datar mempunyai syarat yaitu : garis bidik harus sejajar dengan garis jurusan nivo. Dalam
keadaan di atas, apabila gelembung nivo tabung berada di tengah garis bidik
akan mendatar. Oleh sebab itu, gelembung nivotabung harus di tengah setiap kali
akan membaca skala rambu.
Karena interval skala rambu umumnya 1 cm, maka agar kita
dapat menaksir bacaan skala dalam 1 cm dengan teliti, jarak antara alat sipat
datar dengan rambu tidak lebih dari 60 meter. Artinya jarak antara dua titik
yang akan diukur beda tingginya tidak boleh lebih dari 120 meter dengan alat
sipat datar ditempatkan di tengah antar dua titik tersebut dan paling dekat 3,00
m.
Peralatan
Pengukuran sipat datar memerlukan dua alat utama yaitu sipat
datar (waterpas) dan rambu ukur. Umumnya waterpass dilengkapi dengan nivo yang
berfungsi untuk mendapatkan sipatan mendatar dari kedudukan alat dan
unting-unting untuk mendapatkan kedudukan alat tersebut di atas titik yang
bersangkutan.
Waterpass yang sering dipakai sekarang ini adalah jenis
Automatik Level, pada alat ini yang otomatis adalah sistem pengaturan garis
bidik yang tidak lagi bergantung pada nivo yang terletak di atas teropong. Alat
ini hanya mendatarkan bidang nivo kotak melalui tiga sekrup penyetel dan secara
otomatis sebuah bandul menggantikan fungsi nivo tabung dalam mendatarkan garis
nivo ke target yang dikehendaki.
Bagian-bagian dari alat sipat datar otomatis diantaranya:
kip bagian bawah (sebagai landasan pesawat yang menumpu pada kepala statif),
sekrup penyetel kedataran (untuk menyetel nivo), teropong, nivo kotak (sebagai
pedoman penyetelan rambu kesatu yang tegak lurus nivo), lingkaran mendatar
(skala sudut), dan tombol pengatur fokus (menyetel ketajaman gambar objek).
Keistimewaan utama dari penyipat datar otomatis adalah garis
bidiknya yang melalui perpotongan benang silang tengah selalu horizontal
meskipun sumbu optik alat tersebut tidak horizontal.
Gambar 1. Salah satu
automatic level dan rambu ukur
Istilah
dalam Pengukuran Sipat Datar (Waterpass)
Beberapa istilah yang
digunakan dalam pengukuran alat sipat datar dan keterangan gambar dibawah ini,
diantaranya :
Gambar
2. Pengukuran sipat datar optis
a. Stasion
(A, B, C, X)
Stasion
adalah titik dimana rambu ukur ditegakan, bukan tempat alat sipat datar ditempatkan,
tetapi pada pengukuran horizontal stasion adalah titik tempat berdiri alat.
b. Tinggi
alat (t1 dan t2)
Tinggi
alat adalah tinggi garis bidik diatas tanah dimana alat sipat datar didirikan.
c. Tinggi
garis bidik (Ta, Tb)
Tinggi
garis bidik adalah tinggi garis bidik di atas bidang referensi ketinggian (permukaan
air laut rata-rata).
d. Pengukuran
ke belakang (b)
Pengukuran
ke belakang adalah pengukuran ke rambu yang ditegakan di stasion yang diketahui
ketinggiannya, maksudnya untuk mengetahui tingginya garis bidik. Rambunya
disebut rambu belakang.
e. Pengukuran
ke muka (m)
Pengukuran
ke muka adalah pengukuran ke rambu yang ditegakan di stasion yang diketahui
ketinggiannya, maksudnya untuk mengetahui tingginya garis bidik. Rambunya
disebut rambu muka.
f.
Titik putar/turning point (m=b)
Titik
putar (turning point) adalah stasion dimana pengukuran ke belakang dan
ke muka dilakukan pada rambu yang ditegakan di stasion tersebut.
g. Stasion
antara (intermediate stasion)
Stasion
antara (intermediate stasion) adalah titik antara dua titik putar, dimana hanya
dilakukan pengukuran ke muka untuk menentukan ketinggian stasion tersebut.
h. Seksi
(X ke B)
Seksi
adalah jarak antara dua stasion yang berdekatan, yang sering pula disebut slag.
Cara Pengukuran Sipat Datar
Berikut adalah cara-cara pengukuran dengan sipat datar :
a. Alat
sipat datar ditempatkan di stasion yang diketahui ketinggiannya
Perhatikan gambar berikut.
Gambar 3. Cara Tinggi Garis Bidik
Keterangan :
ta = tinggi alat di A
T = tinggi garis bidik
HA = tinggi stasion A
b = bacaan rambu di B
HB = tinggi stasion B
hAB = beda tinggi dari A ke B = ta – b
untuk menghitung
tinggi stasion B
digunakan rumus sbb:
HB = T – b
HB = HA + ta – b
HB = HA + hAB
b.
Alat sipat datar ditempatkan diantara dua stasion (tidak
perlu segaris).
Gambar
4. Waterpass di tengah-tengah stasioner
Perhatikan gambar diatas:
hAB = a – b
hBA = b – a
Bila tinggi stasion A adalah HA, maka
tinggi stasion B adalah:
HB = HA + hAB = HA + a – b = T – b
Bila tinggi stasion B adalah HB, maka
tinggi stasion A adalah:
HA = HB + hBA = HB + b – a = T – a
c.
Alat sipat datar tidak ditempatkan diantara atau pada
stasion.
Gambar 5. Waterpass tidak ditempatkan diantara atau pada
stasion
Perhatikan gambar diatas:
hAB = a – b
hBA = b – a
bila tinggi stasion C diketahui HC,
maka:
HB = HC + tc – b = T – b
HA = HC + tc – a = T – a
Bila tinggi stasion A diketahui, maka:
HB = HA + hAB = HA + a
- b
Bila tinggi stasion B diketahui, maka:
HA = HB + hAB = HB + b – a
Dari ketiga cara di atas, cara yang paling teliti adalah
cara kedua, karena pembacaan a dan b dapat diusahakan sama teliti yaitu
menempatkan alat sipat datar tepat di tengah-tengah antara stasion A dan B
(jarak pandang ke A sama dengan jarak pandang ke B).
Jenis-Jenis Pengukuran Sipat Datar
Ada
beberapa macam pengukuran sipat datar di antaranya:
a. Sipat
datar memanjang.
Digunakan apabila jarak antara dua
stasion yang akan ditentukan beda tingginya sangat berjauhan (di luar jangkauan
jarak pandang). Jarak antara kedua stasion tersebut dibagi dalam jarak-jarak
pendek yang disebut seksi atau slag. Jumlah aljabar beda tinggi tiap slag akan
menghasilkan beda tinggi antara kedua stasion tersebut.
Tujuan
pengukuran ini umumnya untuk mengetahui ketinggian dari titik-titik yang
dilewatinya dan biasanya diperlukan sebagai kerangka vertical bagi suatu daerah
pemetaan. Hasil akhir daripada pekerjaan ini adalah data ketinggian dari pilar-pilar
sepanjang jalur pengukuran yang bersangkutan. Yaitu semua titik yang ditempati
oleh rambu ukur tersebut.
b. Sipat
datar resiprokal
Kelainan pada sipat datar ini adalah
pemanfaatan konstruksi serta tugas nivo yang dilengkapi dengan skala pembaca bagi
pengungkitan yang dilakukan terhadap nivo tersebut. Sehingga dapat dilakukan
pengukuran beda tinggi antara dua titik yang tidak dapat dilewati pengukur.
Seperti halnya sipat datar memanjang, maka hasil akhirnya adalah data
ketinggian dari kedua titik tersebut.
c. Sipat
datar profil.
Pengukuran ini bertujuan untuk
mengetahui profil dari suatu trace baik jalan ataupun saluran, sehingga
selanjutnya dapat diperhitungkan banyaknya galian dan timbunan yang perlu
dilakukan pada pekerjaan konstruksi. Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan dalam
dua bagian yang disebut sebagai sipat datar profil memanjang dan melintang.
Hasil akhir dari pengukuran ini adalah gambaran (profil) dari pada kedua jenis
pengukuran tersebut dalam arah potongan tegaknya.
d. Sipat
datar luas
Untuk
merencanakan bangunanbangunan, ada kalanya ingin diketahui keadaan tinggi
rendahnya permukaan tanah. Oleh sebab itu dilakukan pengukuran sipat datar luas
dengan mengukur sebanyak mungkin titik detail. Kerapatan dan letak titik detail
diatur sesuai dengan kebutuhannya. Apabila makin rapat titik detail
pengukurannya maka akan mendaptkan gambaran permukaan tanah yang lebih baik.
Bentuk permukaan tanah akan dilukiskan oleh garis-garis yang menghubungkan
titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. Garis ini dinamakan kontur.
1.2.
Metode Pengukuran Dengan Mengunakan Barometris
Pengukuran
Barometris pada prinsip-nya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. Pengukuran
tinggi dengan menggunakan metode barometris dilakukan dengan menggunakan sebuah
barometer sebagai alat utama.
Seperti
telah di ketahui, Barometer adalah alat pengukur tekanan udara. Di suatu tempat
tertentu tekanan udara sama dengan tekanan udara dengan tebal tertentu pula.
Idealnya pencatatan di setiap titik
dilakukan dalam kondisi atmosfer yang sama tetapi pengukuran tunggal hamper
tidak mungkin dilakukan karena pencatatan tekanan dan temperatur udara
mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir.
Gambar 6. Salah Satu Tipe Barometer
1.3.Metode
pengukuran trigonometris
Pengukuran kerangka dasar vertical metode trigonometris pada
prinsipnya adalah perolehan beda tinggi melalui jarak langsung teropong
terhadap beda tinggi dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut vertikal (zenith
atau inklinasi) serta tinggi garis bidik yang diwakili oleh benang tengah rambu
ukur.
Alat theodolite,
target dan rambu ukur semua berada diatas titik ikat. Prinsip awal penggunaan
alat theodolite sama dengan alat sipat datar yaitu kita harus mengetengahkan
gelembung nivo terlebih dahulu baru kemudian membaca unsur-unsur pengukuran
yang lain. Jarak langsung dapat diperoleh melalui bacaan optis benang atas dan
benang bawah atau menggunakan alat pengukuran jarak elektronis yang sering
dikenal dengan nama EDM (Elektronic
Distance Measurement). Untuk menentukan beda tinggi dengan cara
trigonometris diperlukan alat pengukur sudut (Theodolit) untuk dapat mengukur
sudut sudut tegak.
Sudut tegak dibagi dalam dua macam, ialah sudut miring m
clan sudut zenith z, sudut miring m diukur mulai ari keadaan mendatar, sedang
sudut zenith z diukur mulai
dari keadaan tegak lurus yang selalu ke arah zenith alam.
Gambar 7. Pengukuran Trigonometri
2. Kerangka
Kontrol Horisontal
Kerangka dasar
horizontal adalah hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan
bumi. Jadi untuk hubungan mendatar diperlukan data sudut mendatar yang diukur
pada skala lingkaran yang letaknya mendatar sehiga pada akhirnya akan
memperoleh koordinat suatu lokasi.
Dalam rangka
Pelaksanaan Pengukuran Pemetaan Suatu wilayah dengan cara Terestris, terlebih
dahulu dilakukan pelaksanaan pengukuran Kerangka Dasar pada wilayah tersebut
melalui penyebaran titik-titik kerangka dasar dan dilaksanakan pengukuran
Poligon yaitu pengukuran sudut dan jarak terhadap titik-titik kerangka dasar tersebut.
Sedangkan untuk penentuan posisi titik-titik pada suatu areal tertentu dapat
dilakukan pengukuran sudut dan jarak antara titik-titik atau detail detail lain
di luar titik poligon yang akan ditentukan posisinya.
Pengukuran Poligon
dibagi dua yaitu Pengukuran Poligon tertutup dan Poligon terbuka.
2.1. Poligon Tertutup dan
Poligon Terbuka
Poligon berasal darikata “poly” yang berarti banyak dan “gono” yang berarti sudut. Secara
harafiah, poligon berarti sudut banyak. Namun arti yang sebenarnya adalah rangkaian
titik-titik secara berurutan sebagai kerangka dasar pemetaan. Sebagai kerangka
dasar, posisi, atau koordinat titik-titik poligon harus diketahui atau
ditentukan secara teliti.
Pengukuran
poligon harus memenuhi kriteria atau persyaratan tertentu dan kegunaan poligon adalah sebagai
berikut :
1. Sebagai
kerangka horizontal pada daerah pengukuran
2. Kontrol jarak
dan sudut
3. Basik titik
untuk pengukuran selanjutnya
4. Memudahkan
dalam perhitungan dan ploting peta
Ada tiga hal
utama dalam pengukuran poligon, yaitu : pengukuran sudut mendatar (horisontal),
pengukuran asimut, dan pengukuran jarak.
Pengukuran sudut mendatar
Pengukuran sudut menggunakan
theodolit, baik yang bacaannya sudah dijital maupun yang masih manual pada
dasarnya adalah selisih pembacaan dua arah piringan horisontal.
Gambar 8. Pengukuran sudut horisontal
Jikalau
berdiri alat di titik 2, selanjutnya akan dicari sudut titik 2 tersebut, maka
dapat dihitung sebagai berikut :
β
= Bac. Pir. Hors arah titik 3 minus Bac.
Pir. Hors arah titik 1.
Misalnya :
·
Bac. Pir. Hors
arah titik 3 = 130o25’40’’
·
Bac. Pir. Hors
arah titik 1 = 050o15’20’’
·
Jadi β = 130o25’40’’ - 050o15’20’’ = 080o10’20’’
Sebelum lebih jauh dengan perhitungan poligon, berikut
dijelaskan prinsip dasar penentuan posisi.
|
Gambar 9. Prinsip Dasar Penentuan Posisi
Sudut jurusan awal (asimut awal)
ditentukan dengan penentuan koordinat dua titik menggunakan GPS dan rumusnya
sebagai berikut :
Poligon Tertutup
Poligon tertutup adalah poligon yang titik
awal dan titik akhir menjadi satu.
Poligon ini merupakan poligon yang paling
disukai dan paling banyak digunakan dilapangan karena tidak membutuhkan titik
ikat yang banyak yang memang sulit ditemukan dilapangan. Namun demikian hasil
pengukurannya cukup terkontrol.
Poligon terbuka adalah
poligon dengan titik awal dan titik akhir yang tidak sama, biasanya berbentuk
memanjang. Titik awal hitungan pada poligon di atas lazimnya dikatakan sebagai
titik ikat yang merupakan titik referensi (acuan) dalam perhitungan koordinat
titik-titik selanjutnya.
Gambar 10. Poligon Tertutup
Data
yang diperlukan dalam pengukuran poligon
tertutup adalah :
· Koordinat
awal (X, Y, Z),
· Sudut
jurusan awal (asimut),
· Semua
sudut dalam (melalui pembacaan arah-arah),
· Semua
jarak.
Sebelum lebih
jauh dengan perhitungan poligon, berikut dijelaskan prinsip dasar penentuan
posisi.
Syarat Poligon
Tertutup
Syarat geometris poligon tertutup adalah :
1.
∑ S =
(n – 2) . 180o
2.
∑ J sin A = 0
3.
∑ J cos A = 0
Karena ada kesalahan dalam pengukuran sudut dan jarak, yang terjadi adalah
:
fS = ∑ S – ((n – 2)
. 180o)
fx = ∑ J sin S
fy = ∑ J cos S
Keterangan :
n = adalah
jumlah titik polygon,
S = sudut dalam/sudut
ke-kanan,
J = jarak antar titik,
A = asimut
fx = kesalahan linier jarak arah
sumbu X,
fy = kesalahan linier jarak
arah sumbu Y.
Selanjutnya urutan perhitungan poligon tertutup adalah
sebagai berikut :
1.
Hitung
fS dengan rumus : fs = ∑ S – ((n – 2) . 180o),
2.
Hitung
koreksi masing-masing sudut dalam (ks) dengan rumus : ks = fs/n, dimana n
adalah jumlah titik poligon,
3.
Hitung
sudut dalam terkoreksi (S’) dengan rumus : S’ = S + ks,
4.
Hitung
masing-masing sudut jurusan (asimut) dengan rumus :
A(n.n+1) =
A(n-1).n + 180 - S’n,
5.
Hitung
masing-masing semua absis dan ordinat dengan rumus : ∆X = J sin A,
dan ∆Y = J cos A,
6.
Hitung
kesalahan linier jarak arah sumbu X (fx) dengan rumus : fx = ∑ J sin A, dan kesalahan linier jarak arah sumbu y (fy)
dengan rumus : fy = ∑ J cos A,
7.
Hitung
koreksi absis untuk masing-masing segmen dengan rumus : kn(x) = Jn/∑J . fx,
8.
Hitung
koreksi ordinat untuk masing-masing segmen dengan rumus : kn(y) = Jn/∑J . fy,
9.
Hitung
masing-masing absis terkoreksi : ∆X’ = (J sin
A) + k(x), dan masing-masing ordinat terkoreksi : ∆Y’ = (J cos A) + k(y),
10.
Hitung
masing-masing koordinat definitif dengan rumus :
Xn = X(n-1) + ∆X’(n-1).n dan Yn = Y(n-1) + ∆Y’(n-1).n.
Poligon Terbuka (Poligon Memanjang)
Seperti dijelaskan di
atas poligon memanjang (poligon terbuka) adalah
poligon yang titik awal dan titik akhir tidak menjadi satu. Poligon memanjang terdiri
dari poligon memanjang lepas, poligon memanjang terikat sepihak/sebagian, dan
poligon memanjang terikat sempurna.
Gambar 11. Poligon Memanjang Terikat Sempurna
Syarat geometris poligon memanjang terikat sempurna adalah :
1.
ACD – AAB = ∑ S – n.180o
4.
XCD – XAB = ∑ J sin A
5.
YCD – YAB = ∑ J cos A
Karena ada kesalahan dalam pengukuran sudut dan jarak, yang terjadi adalah
:
1.
fS
= (ACD – AAB) - (∑ S – n.180o )
2.
fx = (XCD – XAB) - (∑ J sin A)
3.
fy = (YCD – YAB) - (∑ J cos A)
Keterangan :
CD = akhir
AB = awal
Selanjutnya urutan perhitungan poligon tertutup adalah sebagai berikut :
Hitung fS dengan rumus : fs = ∑ S – ((n – 2) . 180o),
1.
Hitung
koreksi masing-masing sudut dalam (ks) dengan rumus : ks = fs/n, dimana n
adalah jumlah titik poligon,
2.
Hitung
sudut dalam terkoreksi (S’) dengan rumus : S’ = S + ks,
3.
Hitung
masing-masing sudut jurusan (asimut) dengan rumus :
4.
A(n.n+1)
= A(n-1).n - 180 + S’n,
5.
Hitung
masing-masing semua absis dan ordinat dengan rumus : ∆X = J sin A,
dan ∆Y = J cos A,
6.
Hitung
kesalahan linier jarak arah sumbu X (fx) dengan rumus : fx = (Xakhir – Xawal)
- (∑ J sin A), dan
kesalahan linier jarak arah sumbu y (fy) dengan rumus : fy = (Yakhir – Yawal) - (∑ J cos A),
7.
Hitung
koreksi absis untuk masing-masing segmen dengan rumus : kn(x) = Jn/∑J . fx,
8.
Hitung
koreksi ordinat untuk masing-masing segmen dengan rumus : kn(y) = Jn/∑J . fy,
9.
Hitung
masing-masing absis terkoreksi : ∆X’ = (J sin
A) + k(x), dan masing-masing ordinat terkoreksi : ∆Y’ = (J cos A) + k(y),
10.
Hitung
masing-masing koordinat definitif dengan rumus :
11.
Xn
= X(n-1) + ∆X’(n-1).n dan Yn = Y(n-1) + ∆Y’(n-1).n.
Selamat mencoba ya Gaess.....
No comments:
Post a Comment