Kali ini saya ingin membagikan tulisan terkait dengan batuan, yang mana kita dapat mengetahui klasifikasi batuan berdasarkan kandungan mineralnya maupun batuan berdasarkan proses pembentukannya :
I.A. KLASIFIKASI BATUAN
Siklus pembentukan batuan dimulai dari magma keluar dan
terbentuk batuan beku. Setelah batuan beku terpapar di permukaan atau dekat
permukaan, maka akan terjadi proses pelapukan dan hasilnya yang berupa material
lapuk akan tertransport dan diendapkan atau mengalami sediment tersebut
mengalami konsolodasi dan tegangan, maka material tersebut akan menjadi batuan
sedimen. Dalam fungsi waktu dan jika batuan sedimen mengalami pembebanan dan
temperatur didalam bumi maka batuan tersebut akan mengalami metamorfose
sehingga terbentuk batuan metamorf.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa batuan beku atau
batuan sedimen atau batuan metamorf yang mengalami pelapukan dapat menjadi
batuan sedimen baru. Demikian juga halnya dengan kejadian batuan metamorf baru,
bahwa apakah batuan beku atau batuan sedimen atau batuan metamorf jika
mengalami metamorfose akan dapat menjadi batuan metamorfose baru.
1.Batuan Beku (igneous rocks), Beberapa
ciri dari batuan beku adalah bahwa batuan tersebut berasal langsung dari
pembekuan magma. Jika batuan beku tersebut diklasifikasikan sebagai batuan beku
asam maka kenampakannya berwarna terang dan kandungan SiO2 akan lebih besar
daripada 55%. Sedangkan untuk batuan beku sedang akan berwarna agak terang, dan
kandungan SiO2 sekitar 50% - 55%, dan batuan beku basa berwarna gelap dengan
kandungan SiO2 lebih kecil daripada 50%.
2.Batuan Sedimen (sedimentary rocks), Beberapa
ciri batuan sedimen adalah berlapis-lapis, yang merupakan hasil pelapukan dari
batuan lain yang diendapkan bisa secara fisik atau kimia yang telah mengalami
transportasi melalui air, atau angin dan gravitasi. Sedangkan urutan
pelapisannya selalu mengikuti hukum superposisi (tua ke muda). Ciri lainnya
adalah batuan sedimen bisa terkonsolidasi atau tidak terkonsolidasi. Akibat
dari aktivitas tektonik maka batuan sedimen dapat mengalami perlipatan seperti
sinklin atau antiklin atau juga dapat tersesarkan yang berupa sesar, kekar,
tergeser.
3.Batuan Metamorpik (metamorphic rocks), Proses
pembentukan batuan metamorpik dapat
berasal dari batuan lainnya yang mengalami tekanan dan panas yang tinggi. Pada
proses pembentukannya tidak ada pemanbahan unsur baru, dan yang ada adalah
proses rekristalisasi. Pada batuan metamorpik ini mempunyai tekstur khas
seperti: filit (halus dengan pola laminasi), sekis(berlapis),gheneis
(selang-seling lapisan dan butiran) dan masif.
Jika dilihat dari variasi ukuran, batuan beku dapat
dijelaskan bahwa semakin bertambah unsur silika maka semakin kasar ukuran
butirnya. Selain itu, semakin dekatnya pembekuan terjadi ke permukaan
(extrusive) maka ukuran butirannya semakin halus, dan contohnya Rhyolite,
Dacite, Andesite dan Basalt
Gunung api merupakan sunber batuan piroklastik, seperti lapili, pasir, abu vulkanik, yang kesemuanya ini akan diendapkan dilereng gunung api. Akibat proses latupan gunung berapi menimbulkan berbagai bentuk intrusi atau aliran lava seperti tephra, korok (gang), sill lakolit, stock, lopolit, dan batolit
Gunung api merupakan sunber batuan piroklastik, seperti lapili, pasir, abu vulkanik, yang kesemuanya ini akan diendapkan dilereng gunung api. Akibat proses latupan gunung berapi menimbulkan berbagai bentuk intrusi atau aliran lava seperti tephra, korok (gang), sill lakolit, stock, lopolit, dan batolit
I.B. URUTAN
KETIDAKSELARASAN
Urutan pelapisan batuan yang terendap diatas lapisan
yang lebih tua batuan beku dan metamorf merupakan suatu bentuk
ketidakselarasan. Pelapisan ini akan berubah akibat adanya proses tektonik, dan
adanya suatu proses erosi pada permukaan. Selanjutnya akan diendapkan kenbali
dan berikut erosi pada permukaan setelah adanya perubahan, dan hasilnya proses
pengendapan ini dikenal dengan ketidakselarasan menyudut (angular
unconforminity).
Berikut dengan adanya pengangkatan akibat proses
tektonik dimana tidak mengalami
perubahan tetapi terjadi erosi pada permukaan. Proses Pengendapan berlangsung
dan terjadi pula proses erosi pada permukaan yang lama, tidak menyebabkan
perubahan. Keadaan ini dikenal dengan nama ketidakselarasan
I.C. PERUBAHAN BENTUK
LAPISAN
Proses tektonik akan mengakibatkan terjadi perubahan
Bentuk perlapisan, yang tadinya perlapisan itu mendatar bisa berubah Menjadi
seperti bentuk perlipatan, pergeseran, serta proses perubahan lainnya.
Berbicara mengenai bidang diskontinyu
pada batuan tidak lepas dari proses metamorfosa pada tumbukan lempeng tektonik.
Proses tektonik lempeng terdiri dari tiga proses yaitu :
1.
Divergens (dua lempeng saling berpisah),
2.
Transform (dua lempeng bergerak Saling
berpapasan), dan
3.
Konverges (dua lempeng Saling bertemu).
Peristiwa metamorfosa pada tumbukan lempeng adalah
peristiwa konvergens, yaitu pergerakan saling mendekati antar kerak samudra dan
kerak benua yang menyebabkan kerak Samudra menujam kedalam mantel sehingga
terbentuk palung atau zona subduksi, dan terbentuk pergunungan vulkanik
andesitic, akibat pencaciran kerak benua dan kerak samudra
I.D. JENIS STRUKTUR BATUAN
Beberapa jenis struktur batuan akan menpengaruhi kekuatan
batuan. Jenis struktur ini berupa pertama, batuan berlapis merupakan campuran
mineral mika dan khlorit serta kuarsa dan feldspar pada batuan,kedua, batuan
bertipe bongkahan yang merupakan campuran matrik yang bersifat lemah dari
kekuatan penyemenan dengan kekuatan yang lemah. Kondisi seperti inipada umumnya
menjadi pada breksi dan konglomerat, dan batuan”backfill”, sedang yang ketiga
adalah batuan intrusiini umumnya menerobos
di batuan yang lebih lunak dari yang mengintrusi.
Beberapa Parlementer Penting Batuan Dalam Rekayasa
Batuan, Komposisi batuan Kulit bumi, dari beratnya terdiri dari 8 unsur yaitu
O, Si, Al, Fe, Ca, Na, Mg, dan H dan komposisi dominan dari kulit bumi Tersebut
dapat terlihat pada tabel dibawah.
mineral
|
%
|
mineral
|
%
|
mineral
|
%
|
mineral
|
%
|
SiO2
|
59,8
|
CaO
|
4,9
|
Fe
|
3,39
|
K2O
|
2,98
|
Al2O
|
14,9
|
MgO
|
3,7
|
Na2O
|
3,25
|
Fe2O3
|
2,69
|
H2O
|
2,02
|
Batuan terdiri dari batuan padat baik berupa kristal
maupun yang tidak mempunyai bentuk tertentu dan bagian kosong seperti
pori-pori, fissure, crack, joint,dll
I.E. SIFAT BATUAN
1. Homogen vs. Heterogen,
Batuan disebut
sebagai homogen jika sifat-sifatnya sama Disetiap titik. Namun demikian,
penentuan sifat batuan apakah homogen dan heterogen dapat dilihat dari beberapa
faktor seperti keseragaman jenis mineral pembentuk batuan ukuran dan bentuk
partikel /butir berbeda di dalam batuan, ukuran, bentuk dan penyebaran rongga
berbeda didalam batuan. Contoh batuan beku homogen adalah basalt dengan Kondisi
Berbutir halus yang mengandung mineral yang tidak Dapat dilihat mata tanpa
bantuan kaca pembesar (loupe). Sedangkan untuk batuan sedimen diwakili oleh
batuan lempung.
Secara matematik
rengangan biasanya dianggap gangguan homogen daripada gangguan heterogen. Namun
demikian, rengangan heterogen apapun dalam sebuah material dapat dibagi menjadi
daerah kecil yang mencerminkan karakteristik renggangan homogen. Rengangan
heterogen mempengaruhi material tak padat & tak kaku dalam bentuk tak
beraturan. Bentuk ketidakseragaman ini dikatakan sebagai rengangan tak homogen.
Saat terjadi rengangan heterogen, garis sejajar sebelum rengangan menjadi tidak
paralel setelah rengangan, sedangkan lingkaran dan kubus atau bentuk tiga
dimensi lainnya akan terdistorsi kedalam bentukkompleks. Rengangan homogen
mempengaruhi batuan tak-kaku dalasm bentuk beraturan-berubah secara seragam.
Saat terjadi rengangan homogen, garis palalel sebelum rengangan akan tetap
palalel setelah terjadi rengangan. Oleh karena itu, kubus atau persegi panjang
akan didistorsi menjadi prisma dan paralelogram sedangkan lingkaran dan bola
akan menjadi elipsoid dan elips
2.Kontinum vs. Diskontinyu
Massa batuan di alam tidak kontinyu (diskontinyu) karena
adanya bidang-bidang lemah (rekahan, kekar, patahan dan “fissure”) dimana kekerapan, perluasan dan
orientasi dari bidang-bidang lemah tersebut tidak kontinyu
3.Isotrop vs. Anisotrop
Material atau batuan isotrop mempunyai kesamaan sifat
kesemua arah dan massa
batuan dialam sesungguhnya tidak isotrop. Karena dialam sifat batuan heterogen,
diskontinyu, anisotrop maka untuk dapatmenghitung secara matematis kondisi massa batuan tersebut
diilustrasikan sebagai berikut. Misalnya sebuah massa batuan dengan sebuah lunang bukaan dan
disekitarnya terdiri dari batuan B1, B2, B3, diasumsikan batuan ekivalen B’
sebagai pengganti batuan B1,B2,B3, yang mempunyai sifat homogen, kontinyu dan
isotrop.
I.F. DEFINISI MEKANIKA BATUAN
·
Mekanika batuan adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari perilaku(behaviour) batuan baik secara teoritis
maupun terapan, merupakan cabang dari ilmu mekanika yang berkenaan dengan sikap
batuan terhadap medan-medan gaya
pada lingkunganya.
·
Mekanika batuan adalah teknik
& juga sains yang tujuannya mempelajari perilaku (behaviour) batuan
ditempat asalnya agar dapat mengendalikan pekerjaan yang dibuat pada batuan tersebut
seperti penggalian bawah tanah dll
Di alam, massa
batuan terdiri dari sekelompok batuan utuh dan masing-masing dipisahkan oleh
diskotinuitas. Sedangkan dalam skala mikro, batuan utuh tidak homogen karena
adanya perbedaan tekstur dan mineral. Kekuatan massa batuan dalam skala yang lebih besar
dikontrol oleh karakteristik diskontinuitas. Dalam ukuran besar, padat dan
keras/kuat maka massa
batuan dapat dianggap kontinu. Akan tetapi keadaan ilmiah dan geologi, maka
batuan bersifat diskontinu dalam hal ini diakibatkan adanya kekar, fissure,
skistonitas, rekahan, lubang kecil dan diskontinuitas lainnya. Untuk kondisi
tertentu, dapat dikatakan bahwa mekanika batuan adalah mekanika diskontinu atau
mekanika dari struktur batuan, sehingga dapat dianggap sebagai sistem “multiple
body”.
Analisis mekanika tanah pada umumnya dilakukan pada
bidang, sedangkan analisis mekanika batuan dilakukan pada bidang dan ruang.
Maka mekanika batuan dikembangkan secara terpisah dari mekanika tanah, tapi ada
beberapa yang tumpang tindih. Dan mekanika batuan dalam perhitungannya banyak
menggunakan teori elastisitas dan plastisitas dan dalam mempelajari batuan,
selalu meliputi sistem struktur batuan secara eksperimen.
Pengaruh Geologi Batuan Terhadap Rekayasa Batuan Di
antara ketiga kategori umum batuan, batuan-batuan metamorf memiliki tingkat
anisotropi tertinggi dan segregasi dari mineral-mineral penyusun sebagai
respons kepada tekanan tinggi dan gradient suhu berhubungan dengan evolusi
tektonik dan pembentukan lapisan-lapisan dengan susunan mineralogi yang
berbeda.
Batuan-batuan mengalir dan mengalami rekristalisasi akibat
tegangan-tegangan tektonik baru dan membentuk bidang-bidang lemah ini (misalnya
bidang sekistositi) mempengaruhi kekuatan dan perilaku deformasi batuan rekatif
terhadap arah tegangan yang berkerja.
Tanpa tergantung kepada ukuran proyek-proyek rekayasa,
baik yang berhubungan dengan anisitropi alamiah batuan utuh dari lubang bor
eksplorasi atau yang berhubungan dengan anistropi batuan akibat perekahan in
situ, jika kemantapan massa batuan dalam skala besar perlu diperhatikan,
evaluasi terhadap anisotropi batuan dalam kekuatan dan modulus harus dilakukan.
I.G. RUANG LINGKUP MEKANIKA BATUAN
·
Menyelenggarakan penyelidikan
yang bersifat keteknikan batuan utuh dan massa
batuan.
·
Mengembangkan cara pengambilan
contoh batuan utuh secara rasional dan metode identifikasi serta klasifikasi
batuan.
·
Mengembangkan peralatan uji
batuan yang baik dan metode standar pengujian untuk kuat tekan (unconfined dan
triaksial), kuat tarik dan kuat geser batuan.
·
Mengembangkan metode dan
penentuan hubungan efek skala pada berbagai sifat mekanik dengan
mempertimbangkan gaya-gaya luar seperti pengeboran, peledakan, rock cutting
·
Mengumpulkan dan
mengklasifikasikan informasi batuan, sifat fisik, sifat mekanik (statik dam
dinamik).
·
mempelajari perilaku
elastisitas, plastisitas, dan keruntuhan berdasarkan hasil pengujian sifat
fisik, sifat mekanik (statik dan dinamik) dan pada kondisi beban statik dan
dinamik yang berkerja pada batuan tersebut.
·
Mempelajari perilaku batuan
dibawah kondisi thermal dan sistem keairan (water regimen)
·
Mempelajari perilaku batuan
berstruktur akibat kondisi statik dan dinamik
·
Mengembangkan metode dan
melakukan penelitian yang berhubungan dengan pengukuran deformasi statik dan
dinamik untuk pendugaan dan perekahan termasuk tegangan in-situ dilapangan
·
Melakukan penelitian yang berhubungan
dengan mekanisme kerusakan, kehancuran dan keruntuhan batuan
·
Mengembangkan metode ilmiah
untuk membuat hubungan berbagai sifat, perilaku dan kemantapan sebuah struktur massa batuan antara
analitik, obserfasi dan temuan empirik lainnya
·
Merangsang dan menyebarkan ilmu
pengetahuan tentang batuan dan mekanika batuan
Proses perancangan sebuah tambang terbuka dan tambang bawah
tanah biasanya mengikuti tahapan. Proses diawali dengan pengeboran inti
dilapangan untuk memperoleh kondisi batuan dan contoh batuan bagi kepentingan
geologi dan cadangan serta kepentingan geoteknik. Setelah contoh diperoleh maka
seorang geologist akan melakukan penyelidikan detil, baru kemudian dipotong dan
dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya jika diperlukan untuk kepentingan
geoteknik maka contoh batuan mengalami pengujian geoteknik. Data yang akan
diperoleh dari uji geoteknik akan digunakan untuk proses perancangan sehingga
hasil akhirnya berupa model perancangan, misalnya untuk tambang bawah tanah
Batuan yang terpapar dialam sering disebut sebagai massa batuan. Massa batuan terdiri dari
kumpulan batuan utuh. Informasi detil dari formasi batuan target sangat
diperlukan dalam keberhasilan mengevaluasi permasalahan geoteknik. Contoh
batuan utuh baik inti batuan maupun bongkah batuan utuh yang diperoleh dari massa batuan tentunya
dapat memberikan informasi kritikal yang kualitasnya ditentukan oleh berbagai
faktor.
Sekiranya kualitas pengambilan contoh batuan utuh sangat
dijamin baik maka enjinir geoteknik tambang akan mampu memahami karakteristik
geoteknik formasi batuan lebih efesien dan akan mampu merancang tambang dengan
lebih aman. Kualitas tinggi dari sebuah rangkaian contoh inti batuan memberikan
informasi akurat tentang litologi, sifat fisik dan mekanik batuan untuk
membangun model geologi bagi kepentingan perancang tambang terbuka dan atau
tambang bawah tanah. Oleh karena itu kualitas contoh inti batuan menjadi kunci
awal keberhasilan proses penyelidikan geoteknik selanjutnya. Contoh inti batuan
harus diperoleh tanpa merubah karakteristik aslinya, dan hal ini hanya dapat
diperoleh dengan kehati-hatian dan peralatan yang memadai. Contoh inti batuan
baik akan memberikan informasi yang baik juga. Menganalisa contoh inti batuan
dan membaca log-bore dengan seksama akan memberikan informasi bawah permukaan
yang berkualitas baik.
No comments:
Post a Comment