Kali ini saya akan membagikan metode/prosedur pengujian kuat tekan bebas dengan alat UCS
1. Ruang Lingkup
Metode pengujian ini meliputi pekerjaan pengujian untuk mendapatkan nilai kuat tekan
benda uji campuran tanah semen yang dicetak dalam cetak silinder
setelah benda uji
tersebut diperam.
2. Acuan
Metode
ini
mengacu pada ASTM
D-1633-1994
: Standard Test Method for
Compressive
Strength of Model Soil-Cement Cylinders.
3. Istilah dan Definisi
Yang
dimaksud dengan :
1) kuat tekan adalah besarnya tekanan maksimum pada waktu pengujian
kuat tekan sampai contoh benda uji mengalami keruntuhan.
4. Prisip
a. Metode ini menentukan kuat tekan tanah semen menggunakan benda uji yang dipadatkan dalam bentuk silinder
diperam menurut
ASTM D 1632.
b. Terdiri dari 2 metode,
yaitu :
1) Metode
A, benda uji mempunyai diameter 101,6 mm dan tinggi 16,4 mm atau
rasio tinggi terhadap diameter 1,15.
2) Metode B, benda uji mempunyai diameter 71 mm dan tinggi 142 mm atau rasio tinggi terhadap diameter
2,00.
3) Penyiapan benda uji.
(a) benda
uji metode A disiapkan dengan cara ASTM D 559. Metode D 559 ini
terdiri dari 2 metode yaitu :
(1) metode
A untuk material lolos saringan no.4 (4,75 mm). (2) metode B untuk material lolos saringan 19,0 mm.
(b) benda
uji metode B disiapkan dengan cara ASTM D 1632.
5. Penggunaan
a. Metode A menggunakan peralatan pemadatan dan cetakan yang sama dengan yang ada di laboratorium dan digunakan untuk pengujian
tanah semen yang lain. Metode A dianggap memberikan
pengukuran kekuatan bersifat nisbi, karena
perbandingan tinggi dengan diameter silinder
kecil (1,15). Biasanya metode ini menghasilkan kekuatan yang lebih
tinggi dari pada metode
B.
b. Pada metode B berhubung perbandinga
tinggi terhadap diameter lebih besar (2,0)
secara teknis memberikan nilai kuat tekan
yang
lebih
baik,
karena dapat mengurangi kerumitan kondisi tekanan seperti yang terjadi pada metode
A.
c. Secara
praktis
metode A
lebih
sering
digunakan, akibatnya
lebih umum mengevaluasi atau menspesifikasikan nilai kuat tekan dengan angka-angka yang ditentukan oleh metode A. Faktor untuk mengkonversi nilai-nilai kuat tekan berdasarkan perbandingan tinggi
terhadap diameter.
6. Peralatan.
a. Mesin
Penguji Tekan
Mesin ini boleh terdiri
dari berbagai macam jenis asal mempunyai kapasitas dan pengukur kecepatan pembebanan seperti diuraikan dalam sub pasal 9.1.a.3) yang
harus
sesuai dengan ketentuan sub pasal 15 dari ASTM E4. Mesin penguji
dilengkapi dengan 2 blok landasan baja dengan permukaan
diperkeras (lebih baik bila
permukaan landasan untuk pengujian tekanan tanah semen mempunyai kekerasan tidak kurang dari 60 HRC). Salah satu landasan
tersebut berupa blok dengan dudukan bulat yang umumnya
akan menahan bagian atas benda uji.
Landasan yang lain berupa satu blok kaku yang datar tempat benda uji akan diletakan. Muka landasan tersebut harus sebesar, malahan lebih baik bila lebih besar
dari
permukaan benda
uji
di mana
beban
akan diberikan. Muka-muka landasan waktu masih baru, tidak boleh berjarak
dari suatu bidang datar lebih dari
0,013 mm pada setiap titik, dan muka-muka
tersebut harus dijaga dalam batas variasi 0,02 mm. Diameter dudukan blok yang bulat diameter bola tidak boleh lebih besar dari diameter benda uji, dan pusat bola harus berimpit dengan
pusat
landasan. Bagian yang dapat bergerak
dari blok ini harus ditahan dekat dengan dudukan yang bulat tersebut, tetapi disainnya harus sedemikian sehingga muka landasan dapat berputar bebas dan terangkat
dalarn sudut kecil dalam setiap jurusan.
b. Cetakan dan Peralatan Pemadatan
1) Cetakan
(a) Cetakan untuk metode A
Cetakan merupakan silinder logam dengan kapasitas (944 ± 11) cm3 dan diameter dalam adalah (101,60 + 0,41) mm, sesuai dengan Gambar l; cetakan dilengkapi
dengan leher dibuat dari bahan yang sama dengan tinggi 63,5 mm; cetakan
dapat berupa tipe belah yang terdiri dari dua
potongan setengah bulat dan potongan pipa dengan satu sisi belah tegak
lurus keliling pipa; cetakan dapat dikunci secara kuat membentuk
silinder
tertutup dengan ukuran seperti di atas; pasangan
cetakan dan leher dapat
di ikatkan secara kuat
kepada dasar yang dapat
dilepas.
(b) Cetakan untuk metode B
Cetakan dapat dilihat dalam Gambar 2 dengan perangkat sebagai berikut:
(1) cetakan
diameter
dalam (71 ± 0,25)
mm tinggi
229 mm
untuk
membuat benda uji dengan diameter 71 min
tinggi
142
mm.
(2) piston bawah dan piston atas dengan diameter 0, 13 mm lebih kecil dari
cetakan.
(3)
penyambung cetakan yang panjangnya 152 mm. (4)
klip pengatur.
(5) lempeng
pemisah diameter 70,6 mm tebal 1,54 mm paling sedikit
dua buah.
Cetakan yang baik mempunyai
kekerasan kira-kira 85 HRB. Benda uji berukuran (71 x 142) mm dapat diuji dengan mesin tekan triaksial, dapat juga untuk pengujian tekan bebas.
2) Penumbuk
(a) Penumbuk manual.
Terdiri dari logam dengan potongan bundar diameter (50,80±0,13) mm
berat (2,49±0,01)
kg dilengkapi
dengan selubung untuk mengatur tinggi jatuh
secara bebas setinggi
(3045,8 + 1,6) mm di atas elevasi tanah semen;
selubung harus sedikitnya mempunyai
4 buah lubang udara di setiap ujung yang berdiameter
minimum (9,5 ± 6) mm dengan porosnya
tegak
lurus satu sama lain, berjarak
19 mm dari kedua ujung; selubung
harus
cukup longgar sehingga penumbuk dapat jatuh bebas.
(b) Penumbuk mekanis
Alat penumbuk mekanis dari logam dengan diameter (50,80 ± 0,13) mm dan berat fabrikasi (2,49 ± 0,01) kg; berat operasi penumbuk
mekanik
harus
ditentukan dengan kalibrasi dengan metode ASTM D. 2168;
penumbuk harus dilengkapi dengan pengatur tinggi jatuh bebas (304,8 ±
1,6) mm dari atas elevasi tanah-semen. (c) Permukaan penumbuk
Permukaan penumbuk yang bundar dapat diganti dengan bentuk juring
dengan diameter lingkaran (101,60 ±
0,41) mm dan mempunyai luas sama
dengan luas penumbuk bundar; penumbuk dengan penampang
juring tidak boleh digunakan untuk memadatkan
benda uji dengan cara ASTM D. 559, kecuali, bila pengujian-pengujian yang lalu pada tanah yang sejenis menghasilkan nilai kekuatan dan ketahanan terhadap pembasahan dan pengeringan mirip dengan bila dipadatkan penumbuk
bundar.
3) Pengeluar Benda Uji
Berupa dongkrak atau alat lain yang dirancang untuk tujuan mengeluarkan benda uji dari cetakan.
(a) Saringan 50 mm, 19,0 mm no. 4 (4,75 mm), dan no. 16 (1,18 mm).
(b) Timbangan kapasitas 12 kg dengan kepekaan 0,0045 kg dan timbangan kapasitas
1000 gram dengan kepekaan 0,1 gram.
(c) Oven dilengkapi dengan termostat yang dapat mempertahankan suhu pada
(110 ± 5)°C.
(d) Pengeluar benda uji.
(e) Batang pemadat yang mempunyai ujung persegi dengan diameter 12,7 mm.
(f) Alat-alat bantu misalnya
sekop,
spatula,
pan
dan sebagainya yang
dapat digunakan untuk mencampur tanah-semen dengan air, pengukur
air,
kaleng wadah air, dan sebagainya.
7.
Ketelitian
dan
Kebiasan
Ketelitian dan kebiasan dari pengujian ini
belum ditentukan oleh program antar
laboratorium. Namun berdasarkan
data yang ada, berikut ini dapat digunakan petunjuk untuk mengetahui variabilitas hasil-hasil kuat tekan.
Pengujian telah dilakukan dalam suatu laboratorium pada 122 set benda uji duplo
dari
21 jenis tanah yang berbeda.
Perbedaan
rata-rata nilai
kekuatan dari
benda
uji
duplo
adalah 8,1
%
dan
perbedaan median 6,2%. Harga-harga
tersebut dinyatakan dalam persentase dari kekuatan rata-rata dua benda uji sebagai
berikut :
(nilai tinggi – nilai rendah)
distribusi variasi ditunjuk dalam gambar 3. Data tersebut meliputi kisaran kadar semen kuat tekan yang luas.
8.
Benda Uji
a. Metode A, benda uji masing-masing berdiameter 101,6 mm dan tinggi 116,4 mm dibuat sesuai ASTM D 559.
b. Metode B, benda uji masing-masing berdiameter 71,1 mm; dan tinggi 142,2 mm dan dibuat sesuai ASTM D. 1632.
Metode ini dapat digunakan
untuk pengujian benda uji dengan ukuran yang lain. Jika contoh uji tanah mengandung material yang tertahan pada saringan No. 4 (4,75 mm) disarankan untuk menggunakan salah satu dari dua cara berikut :
1) menggunakan metode A atau
2) menggunakan benda uji yang besar yaitu dengar diameter 101,6 mm tinggi
203,2 mm dicetak dengan metode B.
9.
Prosedur
9.1. Metode A
a. Contoh berupa material lolos saringan no.4 (4,75 mm).
1) Persiapan
(a) Keringkan contoh tanah, sampai mudah dipecahkan dengan tekanan
sekop; pengeringan
dapat dilakukan dengan udara atau dipanaskan tetapi
tidak boleh lebih dari 600C; dengan hati-hati pecahkan
gumpalan
tanah
dengan cara yang tidak menyebabkan butir-butir aslinya pecah.
(b) Timbang tanah yang sudah disiapkan dalam 9.1 a. 1) a) secukupnya untuk membuat satu buah benda uji serta contoh air. Untuk pengujian rutin biasanya hanya diperlukan 1 contoh. Untuk pekerjaan
penelitian dan pengujian tanah-tanah yang tidak biasa, dibuat dua benda uji.
(c) Tambahkan semen sebanyak yang direncanakan pada tanah tersebut sesuai ASTM C. 150 atau C. 595 dan aduk sampai
terlihat warnanya seragam.
(d) Tambahkan air
minum
yang diperlukan
untuk
mencapai kadar
air
optimum
pada saat dipadatkan dan aduk terw sampai merata.
(e) apabila tanah terdiri dari lempung berat, tumbuk campuran tanah semen dan air pada wadah
tinggi 50
mm menggunakan penumbuk tangan sesuai dengan butir 2.3 b.1) atau penumbuk
yang sejenis, kemudian
tutupi dan biarkan selama 5 sampai den-an 10 menit supaya terjadi
absorpsi yang sempurna.
(f) setelah waktu tersebut, gemburkan campuran tanpa memecahkan butir- butirnya sampai secara visual lolos saringan no. 4 (4,75 mm)
lalu diaduk.
(g)
cetak suatu benda uji dengan segera memadatkan campuran tanah semen yang telah
disiapkan sebelumnya dalam cetakan silinder dengan leher terpasang, dalam tiga lapis dengan tebal yang sama sehingga jumlah seluruhnya 130 mm. Setiap lapis dipadatkan dengan
25 kali tumbukan dengan tinggi jatuh bebas 304,8 mm di atas elevasi tanah semen bila digunakan penumbuk jenis selurung, atau ketinggian
304,8 mm di atas elevasi setiap lapisan padat terakhir bila digunakan penumbuk jenis
terpasang
tetap. Pada
setiap akhir
penumbukan lapisan
pertama dan lapisan kedua garuk permukaannya agar menjadi kasar sebelum penambahan dan penumbukan lapis berikutnya. Penggarukan harus membentuk garis-garis yang saling tegak lurus
dengan lebar
kira-kira 3,2
mm, dalam
3,2 mm,
dan
jarak masing
masing garis 6,4 mm. Tumbukan
harus diatur merata di seluruh permukaan benda uji. Selama pemadatan cetakan harus diletakkan di
atas landasan
yang
dibuat dari
lapisan beton semen seberat tidak
kurang dari
91 kg dan diletakkan pada dasar yang stabil.
(h) selama masa pemadatan ambil contoh yang mewakili
campuran tanah
semen seberat minimum 100 gram, timbang secepatnya, keringkan dalam oven minimum
12 jam atau sampai berat
konstan
untuk
mengecek apakah kadar
air sesuai dengan desain.
(i)
setelah
selesai pemadatan,
lepaskan
leher sambung,
potong
dan
ratakan permukaannya secara hati-hati dengan pisau
perata setinggi cetakan kemudian ditimbang.
(j) hitung berat tanah dengan cetakannya dikurangi berat cetakannya dalam
gram, lalu dibagi dengan 942,95 cm3, catat sebagai berat isi kering (gm) dalam gram/cm3 untuk mengecek kesesuaiannya
dengan kepadatan kering rencana.
2) Pemeraman Benda Uji
(a) peram benda uji di dalam cetakan di dalam ruang lembab selama 12 jam,
atau lebih lama
bila diperlukan.
(b) setelah
waktu
pemeraman tercapai keluarkan
dari dalam cetakan
menggunakan alat pengeluar contoh.
Rendam benda
uji dalam
air selama 4 jam.
(c) ambil benda uji dari dalam air dan dengan segera lakukan pengujian
tekan, dan menjaga benda uji tetap lembab dengan membungkusnya menggunakan lap basah.
3) Prosedur
(a) setel mesin penguji kuat tekan sehingga blok landasan bawah langsung
di bawah landasan atas. Tempatkan
benda uji di landasan bawah, dan pastikan
bahwa sumbu vertikal
- benda uji segaris dengan
pusat arah dudukan bulat dari landasan atas. Begitu
landasan atas sudah menyinggung benda uji, putar bagian yang dapat bergerak secara hati-- hati dengan tangan sehingga didapatkan
kedudukan yang merata
terhadap muka benda uji.
(b) hitung berat
tanah
dengan cetakannya dikurangi berat cetakannya dalam gram, lalu dibagi dengan 942,95
cm3, catat sebagai
berat isi kering (gm) dalam gram/cm3 untuk mengecek kesesuaiannya
dengan kecepatan kering rencana.
4) Pemeraman
Benda Uji
Lakukan pemeraman seperti metode A seperti yang diuraikan dalam 9.1.a.2)
5) Pengujian Tekan
Lakukan pengujian
tekan
seperti
metode
A
seperti
yang
diuraikan
dalam
9.1.a.3).
9.2. Metode B
a. Persiapan
1) keringkan contoh tanah, sampai mudah dipecahkan
dengan tekanan sekop;
pengeringan dapat dilakukan dengan udara atau dipanaskan tetapi tidak boleh lebih dari 600C; dengan hati-hati pecahkan gumpalan tanah dengan cara yang
tidak menyebabkan butir-butir aslinya pecah.
2) saring contoh tanah secukupnya dengan saringan 50,0 mm, 19,0 mm dan no.
4 (4,75 mm). Buang semua material yang tertahan di saringan 50,0 mm. Ambil agregat lolos
saringan
50,0 mm,
tetapi
tertahan saringan
19;75
mm dari
gantikan material tersebut dengan jumlah yang sama dari agregat
lolos 19,0 mm tetapi tertahan no. 4 (4,75 mm); ambil contoh pengganti tersebut dari tanah asli. Metode pembuatan benda uji tanah semen untuk pengujian tekan dan lentur digunakan terutama dengan tanah yang mengandung agregat tertahan saringan no. 4 (4,75 mm) maksimum
35% dan material tertahan pada saringan no. 40 (0,425 mm) maksimum 85%.
3) rendam agregat lolos saringan 19,0 mm
dan tertahan saringan 4,75
mm dalam air selama 24 jam, kemudian ambil, dan keringkan permukaannya. Tentukan sifat-sifat absorbsinya sesuai dengan ASTM C. 127.
4) ambil contoh seberat 100 gram dari tanah lolos saringan no. 4 (4,75 mm), keringkan
dalam oven sampai beratnya
konstan dan tentukan kadar airnya.
Kadar air ini untuk menentukan
air yang perlu ditambahkan
pada campuran tanah semen
sampai
mendapatkan kadar
air optimum untuk pemadatan benda uji.
5) ambil contoh yang
mewakili untuk membuat
dua benda uji kuat tekan, berupa tanah
yang lolos saringan 19,0
mm
tetapi tertahan saringan no. 4 (4,75 mm), dan tanah yang lolos saringan no. 4 (4,75 mm)
yang
sudah disiapkan seperti
diuraikan dalam 4), 5), 6).
6) Timbang tanah seberat yang direncanakan dengan ketelitian 5 gram berupa tanah lolos saringan 19,0 mm tetapi tertahan saringan no. 4 (4,75 mm) dan
timbang semen seberat yang direncanakan dengan ketelitian 1 gram dan ukur air
sesuai dengan rencana dengan ketelitian l ml. Banyaknya tanah, semen,
dan air didasarkan pada hasil
pengujian kadar air optimum dari campuran dan kepadatan maksimum ditentukan dengan ASTM D 558. Banyaknya
semen biasanya untuk
perencanaan
pondasi jalan raya dan landasan pacu
lapangan terbang dari tanah semen, yang dinyatakan oleh kriteria yang
diterapkan untuk menafsirkan hasil-hasil yang didapat dengan metode ASTM D. 559.
7) Pencampuran material
(a)
Umum
Campur
tanah semen, boleh dengan tangan atau dengan alat pencampur laboratorium dengan dilebihkan kira kira 10% dari
kebutuhan pemadatan.
Lindungi material ini terhadap kehilangan
air. Timbang contoh yang mewakili
dan
keringkan dalam oven sampai berat
konstan untuk menentukan
kadar air sebenarnya dari campuran. Bila tanah semen mengandung
agregat yang tertahan pada saringan no. 4
(4,75 mm), untuk penentuan kadar air diperlukan paling sedikit 500 gram dan harus ditimbang sampai gram terdekat. Bila campuran
tidak mengandung agregat tertahan saringan no. 4 (4,75 mm), contoh yang harus ditimbang paling sedikit 100 gram dan harus ditimbang sampai
0,1 gram terdekat.
(b)
Cara Pencampuran
1. Pencampuran tangan
Campur bahan-bahan yang sudah ditimbang di dalam pan logam
atau
meja baja yang bersih dan lembab dengan sendok tembok yang tumpul dengan cara sebagai berikut :
a)
campur semen dengan tanah yang lolos saringan no. 4 (4,75 mm) sampai tercampurdengan baik.
b) tambahkan
air yang
jumlahnya telah
dihitung dan campur
sampai tercampur dengan baik.
c) tambahkan agregat kasar yang sudah kering permukaan jenuh, dan
aduk sampai agregat
kasar tersebut merata di dalam campuran.
2. Pencampuran dengan Mesin
ikuti urutan pencampuran
seperti pada pencampuran tangan, untuk menghilangkan segregasi, tuangkan campuran tanah semen yang
sudah
diaduk mesin tersebut di suatu pan logam yang lembab dan
bersih kemudian campur dengan sekop.
8) Pembuatan Benda Uji.
(a) olesi tipis-tipis cetakan dan 2 lempeng pemisah dengan oli. Pasang cetakan
silinder
di tempatnya dengan klip
pengatur di
atas piston bawah sehingga piston bawah akan masuk sedalam 25,4 mm ke dalam cetakan.
(b) Pasang lempeng pemisah di atas piston bawah, dan letakkan selubung tambahan di
atas cetakan. Masukkan campuran tanah
semen yang
telah ditentukan beratnya dan sudah diaduk merata ke dalam cetakan untuk membuat benda uji yang kepadatannya sudah direncanakan dengan tinggi 142 mm. Bila tanah semen mengandung
agregat yang
tertahan pada saringan no. 4 (4,75 mm), dengan
hati-hati
tusuk-tusuk bagian yang berada di bagian tepi cetakan dengan spatula tipis. Kemudian berikan pemadatan awal dengan menekankan suatu batang
baja
yang licin dengan diameter 12,7 secara mantap dan kuat disertai sedikit
tumbukan berulang-ulang
dari atas ke bawah sampai mencapai yang sudah padat, secara merata di seluruh isi cetakan.
Lakukan pekerjaan ini secara hati-hati jangan sampai terjadi rongga di dalam campuran
tanah semen. ulangi sampai masa tanah termampatkan
setinggi kira-kira 150 mm.
(c) Lepaskan selubung
tambahan dan pasang lempeng
pemisah pada permukaan tanah semen tersebut. Lepaskan
klip
pengatur yang menahan
cetakan pada piston bawah. Pasang piston atas, kemudian berikan
beban statis dengan mesin tekan atau beban dinamis dengan alat pemadat sampai benda uji mencapai 142 mm.
(d) Lepaskan
piston atas,
piston bawah, dan lempeng
pemisah dari cetakan,
tetapi biarkan benda uji tetap dalam cetakan.
b. Pemeraman Benda Uji
Lakukan pemeraman benda uji
seperti pada metode A
yang telah diuraikan pada sub pasal 9.1.a.2).
c. Prosedur Pengujian Kuat Tekan
Lakukan pengujian kuat tekan seperti metode A yang telah diuraikan pada sub pasal
9.1.a.3).
9.3. Perhitungan
Perhitungan Kadar Air dan Pemadatan.
Hitung kadar air (w), berat isi (gd) dan kuat tekan dengan rumus sebagai berikut :
Kadar air (w) = {(B – C) / (C – D)} x 100
Berat isi (γd) = { γm / (w + 100)} x 100
Kuat tekan :
P
Metode A = ⎯⎯ di mana A = 101,6 mm
A
P
Metode B = 1,1 X
⎯⎯ di mana A = 71 mm
A
dengan pengertian :
w =
kadar air (%)
B =
berat tanah dan cawan kadar air (gram)
C =
berat tanah air dan cawan kadar air (gram) D
= berat cawan kadar air (gram)
γd = berat isi kering tanah padat (gram/cm3)
γm = berat isi basah tanah padat (gram/cm3)
γ = kuat tekan (kPa)
p = beban maksimum yang menyebabkan benda uji runtuh
A =
luas rata-rata
benda uji.
N i l a i kuat tekan yang diperoleh dari metode A (ratio tinggi terhadap diameter benda uji 1,15) besarnya 1,10 x kuat tekan yang peroleh dengan metode B (ratio tinggi terhadap diameter 2,0)
Maka
dari itu bila pengujian dilakukan dengan metode B
agar diperoleh nilai
yang
identik dengan metode A (yang lebih sering dilakukan,
lihat sub pasal 5. c.) hasilnya harus dikalikan 1,10.
10.
Laporan
Laporan pengujian dicatat dalam formulir yang telah tersedia dengan mencantumkan
hal-hal sebagai berikut :
a. Identitas contoh :
1) nomor contoh.
2) asal contoh.
3) diameter dan tinggi contoh.
4) luas potongan benda uji (mm2).
5) umur benda uji.
b. Laboratorium/instansi yang melakukan pengujian :
1) nama penguji.
2) nama penanggung jawab pengujian.
3) tanggal pengujian.
c. Hasil pengujian :
1) beban maksimum sampai 40 N terdekat.
2) kuat tekan sampai 35 kPa terdekat.
3) grafik hubungan tegangan – regangan.
4) faktor konversi untuk ratio tinggi terhadap berat.
5) detail pemeraman, kadar air pada saat pengujian kepadatan. d. Kelainan dan kegagalan selama pengujian.
No comments:
Post a Comment