Kali ini saya ingin membagikan cara pengujian triaxial UU
1. RUANG LINGKUP
Standar ini menetapkan cara uji
triaksial untuk tanah kohesif dalam keadaan tidakterkonsolidasi dan tidak
terdrainase (UU) dengan diberi tekanan cairan ke semua arah didalam sel
triaksial, yang selama pengujian, air tidak diperbolehkan mengalir ke atau
daricontoh uji. Standar ini menguraikan prinsip contoh uji yang menggunakan
sel triaksial sebagai berikut :
a) Pengukuran tegangan
tegangan total yang merujuk penjumlahan tegangan efektif dantekanan
air pori (dengan kecepatan regangan rendah).
b) Penentuan kuat
geser serta hubungan antara tegangan dan regangan.Standar ini tidak untuk penggunaan
tekanan balik untuk penjenuhan
2. REFERENSI
SNI
03-2815-1992
3. PERALATAN DAN BAHAN
3.1 Peralatan pembeban aksial terdiri atas :
a) Peralatan pembeban aksial (mesin pembeban)
berupa dongkrak sekrup yang digerakkan oleh:
1) Elektromotor dengan sistem roda gigi.
2) Pembebanan hidraulik atau pneumatik.
3) Alat pembeban lain dengan syarat:
(a) Mempunyai kemampuan yang memadai
dan dapat mengontrol kecepatan regangan
yang disyaratkan.
(b) Kecepatan gerak vertikal
mempunyai ketelitian ±1,0% dari kecepatan regangan yang telah ditentukan.
(c) Getaran mesin pada waktu
pengujian harus cukup kecil untuk mencegah terjadinya perubahan dimensi contoh
tanah, atau peningkatan tekanan pori bila katup drainase ditutup.
d) Alat ukur aksial dapat berupa proving ring
, sel beban elektronik, sel beban hidraulik
atau alat ukur beban lain yang mempunyai kemampuan dan ketelitian yang cukup;
dan dapat mengukur beban aksial dengan ketelitian ±1% hingga contoh tanah
runtuh.
b) Piston harus
dijaga tetap sentris terhadap contoh dengan penyimpangan tidak lebih dari 1,3mm Piston pembeban aksial :
a)
piston
dibuat menembus landasan bagian atas sel triaxial;
b)
dilengkapi
cincin karet agar gesekan yang terjadi sekecil mungkin atau tidak melampaui 0,1
% beban aksial pada saat contoh mengalami keruntuhan;
c)
piston
harus dijaga tetap sentris terhadap contoh dengan penyimpangan tidak lebih dari
1,3 mm.
4.1.2 Peralatan
pengontrol tekanan
Peralatan pengontrol
tekanan sel berupa:
a) sistem pot merkuri atau;
b) sistem regulator pneumatik atau;
c) sistem kombinasi regulator tekanan pneumatik
dan vakum atau;
d) sistem
pengontrol lain; dengan syarat mempunyai ketelitian ± 1% dari tekanan yang diberikan.
4.1.3 Peralatan ukur
Peralatan meliputi
alat-alat ukur berikut.
a) Alat ukur tekanan sel:
1) harus mempunyai
ketelitian ukur yang cukup seperti yang disyaratkan;
2) berupa pipa U,
manometer, transduser listrik atau alat ukur tekan lain;
3) apabila digunakan
2 macam alat ukur tekanan, maka kalibrasinya harus dilakukan bersamaan
b) Alat ukur
deformasi:
1) arloji ukur atau alat ukur elektronik
(LVDT); atau alat ukur lain;
2) ketelitian alat ukur ± 0,3% dari tinggi
contoh tanah semula;
3) mempunyai jarak ukur minimal 20% dari
tinggi contoh tanah semula;
c) Alat ukur panjang
dan diameter contoh dengan ketelitian ± 0,1 % dari panjang yang diukur dan
tanpa mengganggu contoh. d) Alat pencatat waktu dan timbangan:
1) untuk pencatatan
data pembacaan digunakan arloji ukur waktu dengan ketelitian sampai detik;
2) timbangan dengan
ketelitian ± 0,05% dari massa contoh yang ditimbang
4.1.4 Sel triaksial
dan perlengkapannya
Sel triaksial dan
perlengkapannya (lihat Gambar C.1) meliputi :
a) Sel triaksial dengan ketentuan:
1) Sel dapat menahan tekanan sel maksimum yang
diberikan.
2) Sel terdiri atas selinder,
penutup bagian atas, dan landasan bagian bawah.
3) Silinder dianjurkan terbuat dari bahan tembus
pandang, atau dilengkapi lubang pengamat yang tembus pandang agar perilaku
contoh uji dapat diamati.
4) Penutup bagian atas dilengkapi dengan katup
pengeluaran udara dan katup pengisi oli.
5) Landasan bagian
bawah dilengkapi dengan masing-masing 1 katup pengatur tekanan air sel konstan,
pengatur tekanan balik untuk penjenuhan, pengatur untuk mengukur tekanan air
pori, dan pengatur untuk menghisap udara yang terperangkap dalam contoh
b) Tutup dan alas
contoh tanah dengan ketentuan:
1) Harus didesain
agar sistem pada kedua ujung contoh berjalan dengan baik dan lancar.
2) Terbuat dari bahan yang baku, tidak
berkarat, kedap air, berbentuk bulat.
3) Berat tutup bagian atas harus kurang dari
0,5% dari beban aksial yang meruntuhkan contoh atau tidak boleh lebih dari 1
kN/m2.
4) Diameter tutup dan
alas harus sama dengan diameter contoh yang diuji.
5) Alas contoh tanah
melekat langsung pada landasan bagian bawah untuk mencegah pergerakan
horisontal.
c) Membran karet
pembungkus benda uji :
1) harus kedap air dan
elastis;
2) berdiameter 90% -
95% dari diameter contoh;
3) mempunyai
ketebalan ±
a)
untuk
pencatatan data pembacaan digunakan arloji ukur waktu dengan ketelitian sampai
detik;
b)
timbangan
dengan ketelitian ± 0,05 % dari massa
contoh yang ditimbang;
4.1.5
Peralatan lain
Peralatan
lain yang harus disiapkan agar contoh tanah dapat dicetak dan dipasang dengan
baik adalah:
a)
Alat pembentuk contoh yang dilengkapi dengan gergaji kawat dan pisau pemotong
atau tabung pencetak contoh.
b)
Alat pemadat contoh tanah yang dilengkapi dengan tabung belah dan penumbuk
untuk contoh tanah terganggu.
c)
Tabung pengembang membran karet.
d)
Ekstruder untuk mengeluarkan contoh tanah dari tabung.
e)
Kaleng contoh untuk uji kadar air.
4.2 Kalibrasi
Semua alat ukur harus
dikalibrasi minimal 3 tahun sekali dan pada saat diperlukan.
a)
harus
didesain agar sistem pada kedua ujung contoh berjalan dengan baik dan lancar;
b)
terbuat
dari bahan yang baku, tidak berkarat, kedap air, berbentuk bulat;
c)
berat
tutup bagian atas harus kurang dari 0,5 % dari beban aksial yang meruntuhkan
contoh atau tidak boleh lebih dari 1 kN/m2;
d)
diameter
tutup dan alas harus sama dengan diameter contoh yang diuji;
e)
alas
contoh tanah melekat langsung pada landasan bagian bawah untuk mencegah
pergerakan horisontal;
(2) membran karet
pembungkus benda uji :
a)
harus
kedap air dan elastis;
b)
berdiameter
90 % - 95 % dari diameter contoh;
c)
mempunyai
ketebalan ± 1 % dari diameter contoh;
4.1.5
Peralatan lain
Peralatan lain yang harus disiapkan agar
contoh tanah dapat dicetak dan dipasang dengan baik adalah:
a) Alat pembentuk
contoh yang dilengkapi dengan gergaji kawat dan pisau pemotong atau tabung
pencetak contoh.
b) Alat pemadat
contoh tanah yang dilengkapi dengan tabung belah dan penumbuk untuk contoh
tanah terganggu.
c) Tabung pengembang
membran karet.
d) Ekstruder untuk
mengeluarkan contoh tanah dari tabung.
e) Kaleng contoh
untuk uji kadar air
4.2 Kalibrasi
Semua alat ukur harus dikalibrasi minimal 3
tahun sekali dan pada saat diperlukan.
4.3 Air
Air
digunakan dalam sistem pengujian triaksial harus bersih, bebas dari kotoran dan
suspensi lumpur (disarankan untuk menggunakan air suling yang bebas udara)
4.4 Petugas
Petugas dalam pengujian ini adalah laboran
atau teknisi yang berpengalaman dalam pengujian triaksial, dan diawasi oleh
ahli geoteknik.
5.1
Persiapan sebelum pengujian
5.1.1 Ukuran contoh
a) Ukuran contoh uji
minimal mempunyai diameter 35,8 mm, tinggi antara 2 sampai 2,5 kali diameter
contoh, partikel terbesar yang terdapat di dalam contoh uji tidak boleh
melebihi 1/6 diameter contoh, apabila setelah pengujian ditemui partikel yan g
melebihi, catat dan tulis di dalam laporan hasil.
b) Contoh uji
disiapkan minimal sebanyak 3 buah
contoh dikeluarkan
dari tabung belah, lalu dipotong sesuai tinggi yang dibutuhkan
contoh tersisa di uji
kadar air dan berat volume butirnya, lalu berat isinya dihitung.
5 Pengujian 5.1 Persiapan
sebelum pengujian 5.1.1 Ukuran contoh
a) Ukuran contoh uji
minimal mempunyai diameter 35,8 mm, tinggi antara 2 sampai 2,5 kali diameter
contoh, partikel terbesar yang terdapat di dalam contoh uji tidak boleh
melebihi
1/6 diameter contoh,
apabila setelah pengujian ditemui partikel yang melebihi, catat dan tulis di
dalam laporan hasil.
b) Contoh uji
disiapkan minimal sebanyak 3 buah
5.1.2 Contoh tak terganggu
a) Keluarkan contoh
tanah dari tabungnya dengan menggunakan alat pengeluar contoh tanah, dan bagi
menjadi 3 bagian yang sama; tinggi contoh harus lebih sedikit dari tabung
pencetak.
CATATAN : apabila
dijumpai partikel tanah > 1/6 diameter benda uji, lakukan pengujian analisis
pembagian butiran untuk konfirmasi hasil pengujian.
b) Ukur tinggi dan
diameter dalam dari tabung pencetak masing-masing pada 3 tempat yang berbeda
dan rata-ratakan hasilnya guna menentukan volume.
c) Olesi bagian dalam
tabung pencetak contoh uji dengan minyak oli.
d) Cetak contoh uji
dengan menggunakan tabung pencetak yang ditusukkan pada contoh tanah yang telah
dikeluarkan pada butir 1); pembuatan contoh uji dapat juga dilakukan dengan
menggunakan trimming apparatus, sebagai berikut.
1) Letakkan contoh
tanah pada trimming apparatus sedemikian rupa, sehingga contoh tanah terpegang
dengan kuat.
2) Sayat dan ratakan
bagian samping contoh sedikit demi sedikit menggunakan kawat dengan cara
memutar-mutar contoh sedemikian rupa sehingga diameter contoh mencapai diameter
yang diinginkan atau sama dengan diameter plat pemegangnya.
3) Keluarkan contoh
dari
trimming apparatus dan
letakkan pada suatu tempat khusus untuk membuat supaya tinggi contoh dipotong
sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
e) Ratakan kedua ujung tabung pencetak dan
keluarkan contoh uji dari dalam tabung.
f) Timbang dan catat berat isi dari
masing-masing contoh uji guna penentuan berat isi.
g) Ambil sisa contoh tanah guna penentuan kadar
air asli
5.1.3
Contoh tanah terganggu yang dipadatkan
a) Sediakan bahan
contoh sesuai dengan kadar air dan berat isi yang diisyaratkan dan campur
dengan air agar tercapai kadar air sesuai dengan spesifikasi, kemudian disimpan
dalam kaleng tertutup atau plastik dan diamkan selama
±16 jam.
b) Padatkan bahan contoh dalam tabung belah
dengan ketentuan:
1) Bahan contoh yang
akan dipadatkan dibagi minimal 6 lapisan dengan berat dan volume tertentu untuk
setiap lapis.
2) Contoh dipadatkan
lapis demi lapis sehingga mencapai kepadatan yang diinginkan dengan menggunakan
alat penumbuk (besi atau kayu);
3) Bagian atas dari
setiap lapis contoh harus diiris-iris sebelum dilanjutkan dengan lapis
berikutnya.
4) Alat penumbuk yang digunakan harus
mempunyai luas ≤ ½ luas tabung yang digunakan.
5) Contoh dikeluarkan
dari tabung belah, lalu dipotong sesuai tinggi yang dibutuhkan.
6) Contoh tersisa
diuji kadar air dan berat volume butirnya lalu berat volumenya dihitung.
5.1.4 Contoh tanah yang
dicetak
a)
Bentuk kembali contoh uji yang telah diuji dan masih berada di dalam karet
dengan menggunakan tangan, sehingga kembali ke bentuk semula.
b) Keluarkan udara yang terperangkap diantara
contoh uji dan dinding karet dengan cara mengurut-ngurut karet.
5.2
Prosedur pengujian
a)
Periksa semua slang dan pipa yang menghubungkan bejana utama yang berisi air,
pemberi tekanan sel, alat ukur tekanan dan ke atas triaksial terisi dengan air
yang bebas udara.
b)
Periksa dan siapkan sistem pemberi tekanan sel.
c)
Periksa karet-karet pembungkus terhadap kemungkinan terjadinya kebocoran.
d)
Letakkan contoh uji pada alas tempat kedudukan contoh uji di dalam sel
triaksial.
e)
Ambil karet pembungkus dan masukan ke dalam tabung pengembang serta ikatkan
kedua ujungnya pada tabung pengembang sehingga saat tabung dihisap, karet
pembungkus melekat pada dinding dalam tabung.
f)
Dalam keadaan demikian, masukkan tabung pengembang tersebut ke dalam benda uji
dengan hati-hati; masukkan penutup atas ke dalam karet, sehingga penutup duduk
di atas contoh uji; lepaskan hisapan pada tabung pengembang.
g)
Lepaskan bagian atas karet dari tabung pengembang dan keluarkan tabung
pengembang dari benda uji.
h)
Ikat bagian-bagian alas tempat kedudukan contoh dan karet serta bagian atas
plat penutup dan karet dengan menggunakan karet pengikat berbentuk huruf 0;
oleskan tipis-tipis dengan grease bagian vertikal dari alas dan tutup benda uji
untuk memudahkan masuknya karet pembungkus
i)
Letakkan sumbu piston dari sel triaksial tepat di tengah-tengah penutup atas
contoh uji pada tempat kedudukan yang telah disediakan; tekanan yang terjadi
pada permukaan benda uji akibat berat piston tidak boleh melebihi 0,5 % dari
perkiraan kuat tekan maksimum benda uji; kencangkan mur atau baut pengikat,
sehingga sel triaksial terikat kuat dan rapat pada bagian bawah.
j)
Letakkan sel triaksial pada tempat yang telah disediakan pada mesin kompresi;
naikkan sel triaksial dengan memutar mesin dengan tangan sampai ujung atas
piston duduk tepat pada tempat kedudukannya pada cincin pengukur beban (proving
ring ) dengan hati-hati. k) Isi sel triaksial dengan cairan dari bejana utama,
pada saat sel hampir terisi penuh, miringkan posisi sel berlawanan arah dengan
posisi lubang pengeluar udara
(I)
yang terdapat pada bagian tepi alas sel, setelah udara keluar seluruhnya, tutup
lubang udara tersebut secepatnya.
l)
Beri tekanan semua arah dalam sel (σ3) pada tekanan yang diinginkan dengan
membuka kran E dan J, tunggu selama 10 menit untuk memberikan penyesuaian benda
uji pada tekanan sel yang diberikan.
Apabila alat pengukur beban berada di luar sel triaksial, tekanan sel
akan menimbulkan reaksi pada alat ukur beban, pada kondisi ini lakukan
pengujian dimana piston masih sedikit berada di atas penutup benda uji hal
sebagai berikut. 1) Ukur gesekan dan gaya ke atas piston yang akan dikoreksikan
pada beban aksial nanti.
2) Atur alat pengukur beban
sedemikian rupa sehingga dapat mengkompensasikan gesekan gaya ke atas piston.
Untuk alat pengukur beban yang berada di dalam sel, tidak usah dilakukan
koreksi.
m)
Atur posisi arloji pengukur cincin pembeban dan deformasi aksial serta catat
pembacaan awal.
n) Pilih
pengatur kecepatan mesin kompresi sesuai dengan kecepatan deformasi yang
dikehendaki.
o)
Berikan pembebanan aksial pada kecepatan deformasi mendekati 1% per menit untuk
tanah plastis dan 0,3% per menit untuk tanah yang mudah remuk (brittle) dimana
tegangan deviator mencapai regangan antara 3% s.d. 6% pada waktu 15 menit s.d.
20 menit, teruskan pembebanan sampai mencapai regangan 15 % atau pada 5 %
regangan setelah tegangan deviator maksimum tercapai.
p)
Catat pembacaan arloji cincin pembeban dan deformasi aksial pada regangan 0,1%;
0,3%; 0,4% dan 0,5 %, kemudian penambahan pada setiap 0,5% sampai pada regangan
3% dan diteruskan pada setiap penambahan 1%; untuk memperoleh
grafik hubungan tegangan deviator - regangan yang baik, interval pembacaan yang
lebih kerap dapat dilakukan.
q)
Setelah pengujian selesai, ambil contoh uji, sket pola kelongsoran yang terjadi
dan tentukan kadar air.
4.5. 6 Pencatatan data
Data yang perlu dicatat pada
formulir laporan hasil uji geser triaksial tanpa konsolidasi dan tanpa drainase
(UU) terdiri atas:
a)
nama proyek, lokasi, tanggal dan waktu pengujian;
b)
nomor lubang bor/sumur uji, kedalaman, elevasi, jenis contoh (tidak terganggu,
terganggu);
c)
parameter contoh sebelum pengujian seperti berat volume, kadar air, derajat
kejenuhan, tinggi, diameter, luas dan volume contoh;
d)
diameter, tinggi, luas, volume, berat volume dan kadar air contoh setelah
konsolidasi;
e)
tegangan deviator, tegangan utama maksimum dan minimum, regangan aksial saat
terjadi keruntuhan dan kecepatan gerak vertikal (cm/menit);
f)
diagram hubungan antara waktu dan perubahan volume, diagram hubungan antara
regangan dan tegangan deviator;
g)
diagram p – q hasil pengujian;
h)
lingkaran Mohr , sudut geser dan kohesi pada tegangan total dan tegangan total;
i)
sketsa atau foto contoh yang mengalami penggeseran.
6. 7 Perhitungan
Rumus-rumus perhitungan yang
digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1) Perhitungan berat isi
tanah basah



Modulus perpanjangan (Em)
ditentukan dengan cara menggantung karet selebar 10,0 mm pada suatu batang
tipis; pasang batang yang lain pada bagian bawah karet yang tergantung
tersebut; ukur dan catat gaya per satuan regangan yang diperoleh akibat
meregangnya karet; Modulus perpanjangan diperoleh dari persamaan di bawah
dengan menganggap bahwa satuan yang digunakan adalah konsisten.
F adalah gaya untuk
mengembangkan karet, (N/mm)
Am adalah dua kali tebal
karet awal dikalikan dengan lebar karet strip, (mm)
L adalah panjang karet
sebelum mengembang, (mm)
∆L adalah perubahan panjang
karet akibat gaya F, (mm)
Harga tipikal Em karet
lateks adalah 1400 kN/m2
Gambar lingkaran Mohr dari
ketiga contoh uji dan tentukan nilai kuat geser undrained
dimana tegangan geser
sebagai sumbu Y dan tegangan normal sebagai sumbu X; alternatif lain untuk
menentukan kuat geser tersebut adalah dengan cara diagram p-q, yaitu dengan
mengambil :

sebagai sumbu Y, sudut geser
dalam).sin(tan.arc α=φ dan kohesi c = a/cosφ,
dimana a adalah jarak dari titik 0 ke awal
garis lurus yang ditarik melalui ketiga titik hasil uji dan a adalah sudut
kemiringan garis tersebut terhadap horizontal;
8 Laporan hasil uji
Hasil uji dilaporkan dalam
bentuk formulir seperti contoh pada Lampiran B, dan mencantumkan hal-hal
sebagai berikut :
a)
nama proyek;
b)
lokasi;
c)
nomor bor;
d)
kedalaman;
e)
jenis tanah;
f)
keadaan contoh uji : tak terganggu, buatan atau dipadatkan;
g)
ukuran contoh uji : tinggi, diameter, luas dan volume;
h)
kadar air, berat isi sebelum dan sesudah pengujian;
i) jenis
cincin pembeban dan faktor kalibrasinya;
j)
kecepatan deformasi yang digunakan;
k)
kuat geser ”undrained ” dari lingkaran Mohr atau diagram p-q
l)
grafik hubungan tegangan deviator dengan regangan;
m)
nama dan tanda tangan penguji, pemeriksa dan penanggung jawab pengujian.
No comments:
Post a Comment