Berikut saya tuliskan cara pengujian kuat tekan beton dengan alat UCS
1.0 TUJUAN
Prosedur
ini dibuat sebagai acuan untuk menentukan kuat tekan (compressive strength) beton dengan benda uji/sampel berbentuk silinder ataupun kubus yang
dibuat dan dimatangkan (curing) di
laboratorium maupun di lapangan.
2.0 RUANG LINGKUP
Pengujian dilakukan
terhadap beton segar (fresh concrete) yang mewakili campuran beton. Bentuk
sampel bisa berwujud silinder ataupun kubus. Hasil pengujian ini dapat
digunakan dalam pekerjaan :
1) Perancangan
campuran beton;
2) Pengendalian mutu
beton pada pelaksanaan pembetonan.
3.0 DEFINISI
- Kuat tekan beban beton adalah besarnya beban
per satuan luas, yang menyebabkan sampel beton hancur bila dibebani dengan gaya
tekan tertentu, yang dihasilkan atau diperoleh dari mesin tekan.
-
Caping adalah Lapisan perata
4.0 REFERENSI
- SNI 1974 –2011 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder
- PBI (Peraturan Beton Indonesia ) 1971
- SNI 03- 6369-2008, Tata Cara Pembuatan
Kaping untuk benda uji silinder Beton
5.0 PERINGATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
5.1 Koordinasi dengan fungsi laboratorium
untuk penanganan sampel yang mengandung bahan kimia.
5.2
Pastikan APD dalam kondisi layak pakai
5.3
Gunakan pakaian kerja dan APD yang
relevan.( Kacamata, Sarungtangan kulit,
Masker gas, Sepatu Pengaman )
5.4
Pastikan peralatan yang akan digunakan dalam
kondisi standar
5.5
Caping dilakukan di ruang asam
5.6
Penyimpanan bahan untuk caping harus
mengikuti MSDS.
6.0 PERALATAN DAN BAHAN
6.1 Alat Caping
6.2 Jangka Sorong / Mistar Ukur
6.3 Timbangan Digital
6.4 Mesin Tekan
6.5 Bubuk Belerang
6.6 Waterpas
7.0 PERLAKUAN SAMPEL
7.1 Silinder
Melaksanakan proses caping apabila sampel berbentuk silinder sesuai dengan langkah berikut:
7.1.1 Sebelum dicaping harus pastikan permukaan sampel telah kering terlebih dahulu, lalu melapisi permukaan atas dan bawah sampel dengan mortar belerang dengan cara sebagai berikut: Lelehkan mortar belerang didalam pot peleleh (melting pot) yang dinding dalamnya telah dilapisi tipis dengan gemuk.
7.1.2 Letakkan sampel tegak lurus pada cetakan pelapis sampai mortar belerang cair dengan menggunakan waterpas agar didapat permukaan sampel yang rata. Dengan cara yang sama lakukan pelapisan pada permukan lainnya
7.2 Kubus
Sampel cukup dibersihkan dari partikel menggunakan
kain lap
8.0 KEGIATAN DAN TANGGUNG JAWAB
8.1. Pengujian SampelMelakukan pengujian kuat tekan beton dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Meletakkan benda uji pada mesin tekan secara sentris;
2)
Menjalankan mesin tekan dengan bergerak
dengan kecepatan pembebanan dalam rentang 0.15 Mpa/detik sampai dengan 0.35
Mpa/detik
3)
Melakukan pembebanan sampai beban maksimum tercapai
4) Melakukan dokumentasi ( foto bila diminta oleh
pelanggan) bentuk pecah atau retakan dari benda uji.
9.0 PERHITUNGAN DAN LAPORAN
9.1 Perhitungan
Melakukan perhitungan kuat tekan beton yang didapatkan dari hasil perbandingan beban
maksimum terhadap luas penampang.
|
Koordinator Analis
|
Kuat Tekan = P/ A (Mpa)
Dimana : P = Beban Maksimum (N)
A = Luas Penampang
(mm2)
9.1.1 Faktor
Konversi
a. Bentuk Benda Uji Kubus
Untuk
mengkonversikan nilai kuat tekan dari benda uji kubus ke silinder standar dapat
dilakukan dengan cara mengalikan menggunakan Tabel 1.
Tabel 1. Faktor Konversi Kubus ke Silinder
Bentuk benda Uji
|
Perbandingan
|
Kubus : 15cm x 15 cm
x 15 cm
20cm x 20 cm x 20 cm
Silinder : 15 cm x
30 cm *)
|
1.0
0.95
0.83
|
(*) Ukuran silinder
standar berdiameter 15 cm dan tinggi 30
cm
b. Bentuk Silinder Tidak Standar
Jika bentuk silinder sampel tidak standar maka kuat tekan beton yang
diperoleh perlu dilakukan koreksi dengan mengalikan faktor koreksi yang sesuai
seperti tabel berikut.
Tabel 2. Faktor koreksi rasio panjang (L)
dengan diameter (D) benda uji
L/D
|
2.00
|
1.75
|
1.50
|
1.25
|
1.00
|
Faktor
Koreksi
|
1.00
|
0.98
|
0.96
|
0.93
|
0.87
|
Catatan Faktor koreksi
diatas berlaku :
1.
Beton
ringan dengan bobot isi 1600 sampai 1920
kg/m3 dan beton normal
No comments:
Post a Comment